Home

Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juli 2012

Merasakan Khusyu'


Dengan menyebut nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang.

Hati saya tersentuh membaca "keluhan" tentang bagaimana mendapatkan ketenangan.
Seperti apa sebetulnya "sholat khusyu"?. Mengapa kok sulit?. Mengapa kok tidak bisa?.
Berjuta pertanyaan, menjadi berbelit-belit dan penuh pemikiran dan prasangka.

Saya mencoba berbagi pengalaman, ijinkan saya menjawab dengan sederhana dan ringkas dan semoga mampu jelas kepada arah dan sasaran.
Pertanyaan ini, sebetulnya jawabannya sederhana, jelas dan mudah. Semua orang sudah menjawab dan

Sabtu, 02 Juni 2012

Tuhan Ada ‘Di Sini’


Astaghfirullaah al-‘adhiim. Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa penulis & semua umat nabi Muhammad SAW. Khususnya semoga Allah SWT mengampuni dosa penulis atas tulisan ini.

‘Tuhan Ada Di Sini’

Jelas tidak ada maksud penulis untuk meng-enteng-kan eksistensi sang Kholiq. Bukan pula maksud penulis untuk menyamakan sang Maha Pencipta dengan makhluknya yang seakan membutuhkan tempat. So what???

Sejak kecil ketika pertama kali penulis diperkenalkan tentang agama, khususnya tentang Islam, seringkali muncul pertanyaan ‘dimanakah Tuhan berada’? Saya kira pertanyaan serupa juga pernah terlintas di benak Anda kan?

So, dimanakah Tuhan berada?

Rabu, 08 Februari 2012

Sudahkah Anda Penuhi Hak Anak Yatim? (part 1)


‘Hari ini kita mengkaji QS Al-Ma’un’, ucapan beliau memulai kajian
‘Kok surat ini lagi pak kyai? Kita sudah 3 kali mengkajinya loh..’, protes salah seorang santri
‘Sudah berapa anak yatim yang kamu pelihara?’, jawab pak kyai singkat
‘hmmm.....’, santri tersebut hanya bisa bergumam & tertunduk malu
‘Ayo kamu bacakan surat Al-Ma’un lagi..!!!’, sambung pak kyai yang menandakan pengajian segera dimulai.

Sobat, Anda tahu siapa pak kyai tersebut? Saya yakin Anda semua sudah familiar dengan beliau. Adalah KH Ahmad Dahlan, pendiri organisasi masyarakat ‘Muhammadiyyah’, salah seorang putra terbaik negeri ini. Dialog tersebut menjawab penasaran saya setiap menemukan panti asuhan Muhammadiyyah yang tersebar dimana-mana, luar biasa!!!

Minggu, 31 Oktober 2010

Menangis Aku Mendengarnya


Hatiku menangis setiap kali mendengar ayat ini dilantunkan. Terakhir barusan tadi dalam jamaah maghrib di masjid raya Al-A’dhom Tangerang, sang imam dengan suaranya yang merdu membacakan ayat tersebut, QS. Al-Hasyr : 18-24.
Ketika bacaan sang imam sampai ayat ke 20 yang berbunyi : Laa yastawiy ashhaabu an-naari wa ashhaabu al-jannah, ashhaabu al-jannati hum al- faaizuun yang artinya:
Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah (surga); penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.
Hatiku bergetar & tubuhku pun merinding, rasa berdosa segera menyelimuti jiwaku yang memang

Jumat, 22 Oktober 2010

Bahasa Geram


Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri

Bangsa ini sedang terserang virus apa sebenarnya? Apakah hanya karena panas global? Di rumah, di jalanan, di lapangan bola, di gedung dapur, bahkan di tempat-tempat ibadah, kita menyaksikan saja orang yang marah-marah. Tidak hanya laku dan tindakan, ujaran dan kata-kata pun seolah-olah dipilih yang kasar dan menusuk. Seolah-olah di negeri ini tidak lagi ada ruang untuk kesantunan pergaulan. Pers pun –apalagi teve--tampaknya suka dengan berita dan tayangan-tayangan kemarahan.

Lihatlah “bahasa” orang-orang terhormat di forum-forum terhormat itu dan banding-sandingkan dengan tingkah laku umumnya para demonstran di jalanan. Seolah-olah ada “kejumbuhani” pemahaman antara para “pembawa aspirasi” gedongan dan “pembawa aspirasi” jalanan tentang “demokrasi”. Demokrasi yang–setelah euforia reformasi--dipahami sebagai sesuatu tatanan yang mesti bermuatan kekasaran dan kemarahan.

Yang lebih musykil lagi “bahasa kemarahan” ini juga sudah seperti tren pula di kalangan intelektual dan agamawan. Khotbah-khotbah keagamaan, ceramah-ceramah dan makalah-makalah ilmiah dirasa kurang afdol bila tidak disertai dengan dan disarati oleh nada geram dan murka. Seolah-olah tanpa gelegak kemarahan dan tusuk sana tusuk sini bukanlah khotbah dan makalah sejati.

Khususnya di ibu kota dan kota-kota besar lainnya, di hari Jumat, misalnya, Anda akan sangat mudah menyaksikan dan mendengarkan khotbah “ustadz” yang dengan kebencian luar biasa menghujat pihak-pihak tertentu yang tidak sealiran atau sepaham dengannya. Nuansa nafsu atau keangkuhan “Orang Pintar Baru” (OPB) lebih kental terasa dari pada semangat dan ruh nasihat keagamaan dan ishlah.

Kegenitan para ustadz OPB yang umumnya dari perkotaan itu seiring dengan munculnya banyak buku, majalah, brosur dan selebaran yang “mengajarkan” kegeraman atas nama amar makruf nahi munkar atau atas nama pemurnian syariat Islam. Penulis-penulisnya–yang agaknya juga OPB—di samping silau dengan paham-paham dari luar, boleh jadi juga akibat terlalu tinggi menghargai diri sendiri dan terlalu kagum dengan “pengetahuan baru”-nya. Lalu menganggap apa yang dikemukakannya merupakan pendapatnya dan pendapatnya adalah kebenaran sejati satu-satunya. Pendapat-pendapat lain yang berbeda pasti salah. Dan yang salah pasti jahanam.

Dari bacaan-bacaan, ceramah-ceramah, khotbah-khotbah dan ujaran-ujaran lain yang bernada geram dan menghujat sana-sani tersebut pada gilirannya menjalar-tularkan bahasa tengik itu kemana-mana; termasuk ke media komunikasi internet dan handphone. Lihatlah dan bacalah apa yang ditulis orang di ruang-ruang yang khusus disediakan untuk mengomentari suatu berita atau pendapat di “dunia maya” atau sms-sms yang ditulis oleh anonim itu.

Kita boleh beranalisis bahwa fenomena yang bertentangan dengan slogan “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah” tersebut akibat dari berbagai faktor, terutama karena faktor tekanan ekonomi, ketimpangan sosial dan ketertinggalan. Namun, mengingat bahwa mayoritas bangsa ini beragama Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, fenomena tersebut tetap saja musykil. Apalagi jika para elit agama yang mengajarkan budi pekerti luhur itu justru ikut menjadi pelopor tren tengik tersebut.

Bagi umat Islam, al-khairu kulluhu fittibaa’ir Rasul SAW, yang terbaik dan paling baik adalah mengikuti jejak dan perilaku panutan agung, Nabi Muhammad SAW. Dan ini merupakan perintah Allah. Semua orang Islam, terutama para pemimpinnya, pastilah tahu semata pribadi, jejak-langkah dan perilaku Nabi mereka.

Nabi Muhammad SAW sebagaimana diperikan sendiri oleh Allah dalam al-Quran, memiliki keluhuran budi yang luar biasa, pekerti yang agung (Q. 68:4). Beliau lemah lembut, tidak kasar dan kaku (Q. 3: 159). Bacalah kesaksian para shahabat dan orang-orang dekat yang mengalami sendiri bergaul dengan Rasulullah SAW. Rata-rata mereka sepakat bahwa Panutan Agung kita itu benar-benar teladan. Pribadi paling mulia; tidak bengis, tidak kaku, tidak kasar, tidak suka mengumpat dan mencaci, tidak menegur dengan cara yang menyakitkan hati, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tapi memilih memaafkan. Beliau sendiri menyatakan, seperti ditirukan oleh shahabat Jabir r.a,“InnaLlaaha ta’aala lam yab’atsnii muta’annitan...”, Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai utusan yang keras dan kaku, tapi sebagai utusan yang memberi pelajaran dan memudahkan.

Bagi Nabi Muhammad SAW pun, orang yang dinilainya paling mulia bukanlah orang yang paling pandai atau paling fasih bicara (apalagi orang pandai yang terlalu bangga dengan kepandaiannya sehingga merendahkan orang atau orang fasih yang menggunakan kefasihannya untuk melecehkan orang). Bagi Rasulullah SAW orang yang paling mulia ialah orang yang paling mulia akhlaknya. Wallahu a’lam.


*note: Ini tulisan saya ambil karena juga mencerminkan kegelisahan saya selama ini, barusan di khotbah Jum'atan tadi siang, saya juga merasa kurang nyaman dgn suara khatib yg terlalu menggelegar & nada tinggi. Saya juga bingung, kenapa musti dgn nada setinggi itu sih ustadz? saya malah ngga bisa menangkap isi khutbah Anda nih.. :)
Ngga ada yg tersungging kan? setidaknya sebagai nasihat u/ pribadi saya sendiri. Semoga kita bisa lebih bijak, Amiinn..

** sumber: http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=2&id=1162


Rabu, 13 Oktober 2010

Mengenal ‘Pribadi’


Kodrat merupakan kuasa pribadi,
Tiada yang mirip atau menyamai,
Kuasanya tanpa peranti,
Dari tanrupa menjadi warna-warni,
Lahir batin satu sebab ‘sawiji’,

Minggu, 26 September 2010

Mudik ala ‘spiritual backpacker’


Waahh kangen euy lama ga update blog, maklum selama hampir 18 hari mudik di kampung ga ada sinyal untuk online (ternyata operatornya cuma jago di Jakarta doang :( mau nge-blog via HP? Ribet ahh..) Begitu nyampe Jakarta eee kerjaan udh numpuk. Ok deh, aku mulai cerita mudik dulu ya.. :)

Berbeda dengan tahun kemarin sewaktu masih tinggal di Bandung, tahun ini pertama kalinya mudik dari Tangerang. Aktifitas baruku memungkinkanku untuk berlebaran lebih lama di kampung halaman (lebih dari 2 minggu), asyik beneeer J

Nah, sebuah kesempatan langka yang belum tentu bisa terulang di tahun-tahun yang akan datang memunculkan ‘ide’ agak aneh di otakku yang memang suka aneh-aneh ini hhee.. ‘mudik ala spiritual backpacker’, yakni mudik sambil mampir i’tikaf di masjid-masjid besar yang dilalui.

Sabtu siang, 4 September 2010, perjalanan pun dimulai dengan menumpang angkutan Tangerang – Kalideres, dilanjutkan dengan ‘bus way’ nyampe Pulogadung trus lanjut bus patas jurusan Cirebon. Sempet tanya-tanya, Alhamdulillah dengan nyambung 1 angkot lagi sampailah di tujuan pertama ‘masjid di komplek makam Sunan Gunungjati’ tepat pukul 20.30 WIB.

Ahad siang, 5 Sept 2010, tas pun nongkrong diatas punggung lagi, perjalanan pun dilanjutkan dengan bus patas jurusan Semarang. Eee.. di atas bus kepikiran seorang sahabat di Kendal, alangkah lebih baik kalau silaturrahmi ke beliau & melanjutkan i’tikaf malam berikutnya di masjid Agung Kendal aja. Alhamdulillah perjalanan lancar sehingga bisa buka bersama di masjid Agung ini, sang sahabat pun datang menemani ketika jam menunjukkan pukul 22.00, indahnya malam ini.. J

Hujan deras mengguyur kota Kendal sejak Senin pagi, 6 Sept 2010, sang ‘spiritual backpaker’ ini pun terpaksa baru bisa melanjutkan perjalanan setelah hari mulai sore menuju kota Semarang.

Sayangnya, malam keempat, 7 Sept 2010, yang mustinya direncanakan i’tikaf di masjid Agung Demak terpaksa dibatalkan & i’tikaf dilanjutkan di masjid kampung halaman karena ketika di Semarang ketemu seorang sahabat yang maksa ngajak pulang kampung bareng. It’s ok lah.. demi sahabat kok.

Alhamdulillah.. I’tikaf malam terakhir Ramadhan tahun ini ditutup di masjid desa tetangga yang kebetulan kakak ipar jadi imam masjid di sana. Subhanallah.. indahnya ramadhan tahun ini.

Asyik kan? Cara mudik gaya baru nih.. dijamin sangat berkesan & menyenangkan. Anda mau coba tahun depan? Boleh deh kita bareng kalo tujuan kita sama ya.. :)
Oya, foto diatas diambil di masjid komplek makam sunan Gunungjati, Cirebon. Keren kan???

Sabtu, 07 Agustus 2010

Mati Dengan Tersenyum



oleh: Pemanti Jenar

Jika di Surga orang tidak boleh tertawa, aku tidak mau kesana (Marthin Luther). Di kalangan para sufi ada kisah jenaka tentang kematian. Kurang-lebih begini kisahnya : Sebut saja namanya si Bahlul. Pria berpenyakit jantungan ini berkeyakinan, bahwa jika seseorang ketika menghembuskan nafas terakhirnya bibirnya menyebut nama yang maha kuasa, orang itu otomatis akan masuk Surga. Untuk itu, ia menamai kelima anaknya dengan nama yang maha kuasa. Anak pertamanya dikasih nama Allah, anak kedua dikasih nama Tuhan, anak ketiga dikasih nama Illahi, anak keempat dikasih nama God, anak kelima dikasih nama Gusti. Pikir Bahlul itu merupakan antisipasi yang jitu jika dirinya menghadapi kematian kelak. Bahlul percaya, jika sakratul maut datang, dirinya tentu masih akan ingat dan menyebut nama salah satu anaknya. Dengan menyebut dan memanggil nama anaknya, berarti juga telah menyebut dan memanggil nama yang maha kuasa pula. Dengan begitu, bisa mati ditungguin anaknya sekaligus diterima Tuhan di Surga. Luar-biasa memang taktik-cerdiknya si Bahlul ini.

Alkisah, suatu hari si Bahlul berjalan melintasi kamar pembantunya yang pintunya agak terbuka sedikit. Penasaran, iseng-iseng si Bahlul pun melongokkan kepalanya ke dalam kamar pembantunya yang masih terbilang ABG itu. Dan astaga, ternyata pembantunya dilihatnya lagi berganti baju. Jantung Bahlul pun langsung berdegup dengan kencangnya. Di luar sadarnya, bibir Bahlulpun berujar, "Oh, Inem…………". Dan nyawa Bahlul pun seketika itu melayang.

Kita tidak pernah tahu, Bahlul masuk Surga atau neraka, karena dihembusan nafas terakhirnya bukan menyebut nama Tuhan justru menyebut nama Inem pembantunya. Yang jelas kita tahu adalah, bahwa kematian itu memang seperti maling.

Jika Surga dibayangkan sebagaimana oleh Konsili Florence di tahun 1442, orang seperti Bahlul ataupun seperti saya ini, jelas tidak punya hak untuk punya kavling di Surga. Sebab menurut konsili ini, siapa saja yang berada di luar gereja berarti akan masuk ke dalam api abadi dan tidak akan kebagian hidup kekal. Syukurlah, beberapa abad kemudian lahir konsili Vatika ke 2. Dalam konsili yang baru ini memuat pengakuan, bahwa bukan hanya mereka-mereka yang dibaptis dan taat beribadat di gereja saja yang memperoleh penyelamatan.

Yang jadi pertanyaan disini kemudian adalah, apakah peraturan Tuhan itu menuruti peraturan manusia? Dalam artian mereka-mereka yang telah terlanjur masuk neraka, karena terjaring peraturan dari konsili Florence itu lalu dipindahkan ke Surga karena sudah ada konsili Vatikan ke 2?. Disini saya tidak sedang bermaksud membuat lelucon. Disini saya hanya sedang membuat semacam sketsa tentang polah-tingkah manusia yang seringkali lebih suka mengukuhi hukum-hukum buatan manusia yang kondisional daripada menaati hukum-hukum Allah yang abadi. Lebih takut hukum buatan manusia yang sementara daripada hukum Allah yang kekal.

Seperti kisah tentang seorang penguasa yang d imasa jayanya sangat bergelimang harta-benda. Sangat dikagumi sekaligus ditakuti banyak orang. Sebelum mati, sang penguasa inipun sudah sibuk membuat makam yang sangat indah dan mewah untuk dirinya. Mungkin dia takut kalau cuma dikubur dipemakaman umum kampung yang sederhana, nanti orang-orang tidak mau lagi menghormati- kagumi dirinya? Lucu sekali khan, orang sudah mati (bangkai) masih juga mau minta dipuja-kagumi. Begitulah gambaran orang yang sangat kuat sekali nafsu keduniawianya.

Ayah saya, secara lahiriah bukanlah orang yang terhormat. Beliau hanyalah seorang pegawai kecil di kelurahan. Ayah saya yang bukan orang beragama, suatu hari ditanya oleh teman sekantornya begini, "Orang seperti anda ini (tak beragama) kalau mati mau digimanakan?"

Mendengar pertanyaan seperti itu, ayah saya hanya tersenyum dan dengan santainya menjawab, "Kalau saya mati, ya terserah yang hidup dong. Mau dikubur, dibakar, di mummi, buat makan buaya atau mau diapakan saja terserah yang hidup saya tidak akan protes. Saya khan sudah mati, kalau saya masih minta ini-itu apa nanti tidak akan malah lari ketakutan hahaha………"

"Soal Surga dan neraka?'

"A, itu khan hak prerogatif Tuhan. Tidak bisa dan ada gunanya kita mempersoalkan itu. Biar orang seluruh dunia mendo'a-inginkan si A masuk Neraka, kalau Tuhan menginginkan si A masuk Surga, ya masuk Surga orang itu. Begitupun juga sebaliknya. Jadi soal Surga dan neraka, itu tidak jadi permasalahan bagi saya. Tapi satu hal yang saya yakini benar, bahwa Tuhan itu maha adil. Kita menanam kebaikan akan menuai kebaikan, kita menanam keburukan akan menuai keburukan pula. Jadi yang terpenting buat saya adalah, bagaimana sat hidup ini kita untuk bisa selalu belajar menanam pohon kebaikan. Itu yang terpenting. Soal nanti setelah mati mau dido'ain orang banyak atau tidak, itu juga bukan masalah buat saya. Istilahnya orang mau berpergian, saya sudah siapkan bekal sendiri. Jadi nanti orang lain mau bantuin beri bekal atau tidak itu tidak jadi pemikiran saya. Bahasanya orang Islam, sholatlah sebelum kau disholatkan."

Ketika ayah saya meninggal dunia, karena mayoritas pendudk dan keluarga kami orang Islam, ayah saya pun dikubur dengan prosesi secara Islam. Selama tiga malam berturut-turut diadakan juga do’a tahlillan di rumah kami. Semua prosesi pemakaman ayah saya berjalan lancar tidak kurang sesuatu apapun. Tapi meskipun begitu, toh ada juga seorang warga kampung kami yang berkasak-kusuk ngomong kesana-kemari, bahwa semua do’a-do’a yang dipanjatkan banyak orang pada Tuhan untuk almarhum ayah saya itu semuanya sia-sia dan tak ada gunanya. Tidak akan sampai dan diterima Tuhan, alasannya karena ayah saya bukan orang Islam.

Meskipun sudah naik haji, ilmu agama tetangga saya yang suka berkasak-kusuk ini jelas tak sedalam yang ia bayangkan sendiri. Kalau soal kefanatikannya, jelas hampir seluruh orang kampung mengakuinya. Semua ucapan tetangga saya itu, bagi saya hanya menunjukkan dengan jelas betapa kerdil dan sempitnya wawasan spiritual orang itu. Orang itu berkeyakinan, do'a-do'a agama Islam hanya manjur dan pas untuk orang Islam saja. Sikap seperti itu khan jelas-jelas mengerdilkan ajaran Islam itu sendiri. Dan pandangan yang kerdil seperti itu secara logis tentu karena dilahirkan oleh jiwa yang kerdil pula.
Seperti jadi sekretarisnya Tuhan saja orang itu dengan sedemikian pasti dan tahunya, bisa menunjukkan mana do’a yang diterima dan mana do'a yang tidak diterima oleh Tuhan. Padahal letak singgasana Tuhan itu dimana saja dia tidak tahu. Itu khan kesombongan yang luar–biasa, mengambil alih posisi Tuhan dalam menentukan mana do'a yang pantas diterima dan mana yang tidak diterima. Menurut keyakinan saya, semakin dekat orang itu dengan Tuhan, akan semakin rendah hatti pula orang itu. Lawannya rendah hati adalah sombong. Semakin tinggi kesombongan orang itu, artinya semakin jauh pula orang itu dari Tuhan. Dan semakin jauh orang itu dari Tuhan, secara logis, kemungkinan orang itu salah dalam memandang-menilai Tuhanpun tentu semakin besar.

Harus diakui, kefasihan tetangga saya yang satu ini pada isis kitab suci memang pantas diajungkan jempol. Dan hal itulah yang membuatnya sering mendongakkan kepala, merasa punya kelebihan dibandingkan kebanyakan orang kampong yang tidak bisa baca dan tahu bahasa Arab. "Bahasa Arab itu tidak sembarangan dan bisa buat main-main. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Qur'an." Begitulah biasanya tetangga saya itu untuk mengukuhkan eksisitensi keagamaannya di kampung. Seolah-olah hanya dia saja yang tahu kebenaran dan berhak bicara soal agama.

Sifat dan kelakuan tetangga saya itu jadi mengingatkan saya pada kisah Hasan Al-Basri, ketika beliau mengunjungi Habib Ajmi seorang sufi. Pada waktu sholat, Hasan mendengar Ajmi keliru dalam melafalkan bacaan sholatnya. Oleh karena itu Hasan memutuskan untuk tidak bersholat jama’ah dengan Ajmi. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya sholat bersma orang yang tak fasih mengucapkan bacaan sholat.

Di malam harinya Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Tuhan berbicara padanya, "Hasan, jika saja kau sholat di belakang Ajmi dan menunaikkan sholatmu, pastilah kau akan dapat ridhoKu. Sholatmu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh sholat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan sholat Ajmi, tapi kau tak bisa melihat akan kesucian dan kemurnian hatinya. Aku lebih menyukai hati yang tulus, daripada pengucapan tajwid yang sempurna.

Kisah Hasan Al Basri itu, sekaligus juga mengingatkan saya akan sajak Rumi berikut ini; Aku tidak perlu puja-puji itu, kata Allah/Karena Aku terlampau tinggi/ Hati yang mengucapkan itu yang perlu/Aku tidak perlu kat-kata indah/Aku perlu hati yang penuh perasaan/ Macam-macam cara manusia menunjukkan cara pengabdian mereka padaKu/Asal pengabdiannya itu tulus dan iklas, aku terima, aku terima.

Dalam kisah Cina tua, ada cerita tentang orang yang tidur dan bermimpi melihat seekor kupu-kupu yang sangat indah. Sedemikian nyatanya mimpi itu, hingga ketika terbangun orang itupun jadi bertanya-tanya, "Yang kenyataan sesungguhnya itu ketika aku dalam tidur atau ketika aku terbangun kali ini?"

Menurut Plato, filsuf terkenal yang menerima akan adanya dunia lain, kedamaian abadi hanya bisa tercapai dengan mengarahkan semuanya kepada dunia lain itu. Tubuh adalah penjara dari jiwa dan maut adalah jalan keluar untuk membebaskan diri. Jiwa datang dari tempat yang suci dan masuk dalam tubuh dan diujudkan dalam kelahiran yang kesemuanya itu merupakan peristiwa tidur. Setelah jiwa terpenjara raga, kesadaran hanya sedikit mengisi diri kita dan melupakan keadaan drimana kita berasal. Jadi kematian adalah keadaan bangun atau terjaga untuk kembali ingat aka nasal-muasal kita yang sejati.
Kematian merupakan peristiwa yang akan kita alami semua dan tak mungkin untuk bisa kita hindari, mengingat akan hukum alam akan adanya peristiwa pembentukan dan penghancuran seperti yang kita kenal dengan istilah anabolisme dan katabolisme dalam sel organisme. Secara biologis, kematian merupakan suatu proses penghancuran total secara radikal dari luar yang tak dapat diatasi yang meliputi manusia secara keseluruhan. Sementara dalam kaca mata spiritual, kematian hanyalah akhir hidup di dunia untuk memasuki permulaan hidup abadi dengan terjadinya peristiwa pemisahan jiwa dari raga untuk mempertanggung- jawabkan semua apa-apa yang telah kita lakukan di dunia di hadapan pengadilan Tuhan. Energi psikis tidaklah hilang, tapi beralih ke bentuk lain yang lebih tinggi nilainya.

Menurut teori Libido, manusia itu memiliki enegi cinta-kasih dan vitalitet dalam jumplah tertentu yang dijelmakan dalam bentuk kecintaan pada obyek-obyek yang disenanginya. Maka pada orang yang mau meninggal seringkali kita jumpai bagaimana penderitaan orang itu karena keterikatannya yang kuat dengan obyek libidonya. Memang tidak mudah bagi kita untuk melepaskan apa-apa yang kita senangi itu. Bagaimana harus meninggalkan kekasih yang sangat kita cintai, meninggalkan ana-anak yang sangat kita kasihi, meninggalkan jabatan yang member kebanggan, meninggalkan kekayaan yang member banyak kesenangan dan sebagainya. Karena itulah sejak dini kita harus belajar untuk bisa mengarahkan libido kita ke obyek yang lebih tinggi, yaitu keimanan kita kepada Tuhan. Kepada kesadaran akan kemahaa kekuasaan Tuhan.

Hanya dalam penyerahan diri secara totalitas itu, kita baru akan bisa merasakan ketentraman, ketenangan dan rasa terlindung berada dalam pelukannya yang penuh kasih-sayang itu. Hanya dalam penyerahan diri secara totalitas pada Tuhan seperti itu yang akan membuat kita lapang dada dan tidak takut lagi untuk melewati pintu gerbang kematian. Sebab kita percaya, Tuhan itu melingkupi, ada dan berkuasa baik di alam fana maupun di alam baqa. Jadi kematianpun tidak akan memisahkan kita dari pelindung kita, yaitu Tuhan YME. Dan berada dalam lindunganNya memang tak ada sesuatu apapun yang patut untuk kita takuti lagi.

Tapi jika orientasi kita semata-mata hanya tertuju kepada hal-hal yang bersifat keduniawian belaka, begitu menghadapi kematian seringkali jadi sering kekanak-kanakkan sifatnya, seperti berusaha tawar-menawar dengan Tuhan, dengan segala janji-janji manisnya seperti, saya akan rajin beribadah jika diberi umur panjang, tidak akan berjudi, menyakiti orang, akan suka menolong orang, berderma dan sebagainya. Jika orientasi seseorang pada hal-hal yang bersifat keduniawian sangat besar, kematian memang akan dilihatnya seperti lorong kesepian yang gelap tak berujung dan sangat mengerikan baginya. Kematian memang bisa membuat depresi seseorang yang belum matang secara spiritual.
Bicara tentang kematian, biasanya memang akan tumbuh semacam perasaan yag kurang mengenakkan. Tapi betapapun usaha manusia untuk menolaknya, cepat atau lambat kematian pada saatnya pasti akan menjemput kita semua. Tidak bisa dihindari dan ditolak. Disinilah perlunya kita belajar spiritual, karena semakin matang/dewasa spiritual seseorang, akan semakin lapang dada pula orang itu dalam menerima kenyataan yang ada.

Begitupun dalam menghadapi aneka godaan yang ada dalam kehidupan yang hiruk-pikuk ini. Bagi mereka yang telah matang spiritualnya, tidak akan pernah terpenjara apalagi diperbudak oleh gelimang nikmat duniawi. Seorang pelaku spiritual boleh kaya sekaya-kayanya, pintar sepintar-pintarnya, punya jabatan setinggi-tingginya, boleh punya pengikut sebanyak-banyaknya. Boleh saja seorang spiritualis mereguk kemewahan duniawi, sepanjang hal itu tidak membuatnya lupa pada hal yang paling esensial, yaitu Tuhan YME. Ide dan materi disini tidak dipertentangkan, tapi dilebur dijadikan satu sebagai sarana menuju takwa dan penyerahan diri yang lebih totalitas kepada Tuhan. Bukankah lebih baik jadi spiritualis yang suka menyumbang, daripada jadi spiritualis yang suka mengharapkan dan meminta sumbangan?

Jadi semua apa yang tergelar di dunia ini dipahami hanyalah sebagi alat pembantu perjalanan spiritual kita. Karena memang hanya dengan pemahaman yang demikian, ketika kita harus kehilangan dan cepat atau lambat pasti akan kehilangan segala apa yang ada di dunia ini, kita akan bisa menerima semua itu dengan lapang dada dan penuh keikhlasan. Karena sampai disini kita hanya kehilangan alat bukan tujuan. Dan kehilangan itu sebenarnya juga hanya sebagai penguji kematangan spiritual kita. Semakin matang spiritual kita, semakin tahan kita ketika harus kehilangan. Dalam kaca-mata spiritual, sebenarnya kita tidak akan pernah kehilangan apa-apa. Kita terlahir telanjang matipun telanjang pula. Dan hampir di semua tulisan saya, selalu memberi advis agar kita ini mau belajar bertelanjang diri. Belajar kembali ke titik nol. Karena hanya dengan laku spiritual yang demikian, dalam hidup ini kita tidak akan pernah merasa kehilangan apa-apa, selain hanya kehilangan belenggu-belenggu keduniawiannya. Bahkan puncaknya ketika kita harus kehilangan nyawa sekalipun, kita akan berani hadapi semua itu dengan kelapangan dada bahkan mungkin dengan senyuman kebahagiaan. Bagaimana tidak akan bahagia, bakal kembali ke puncak kesadaran spiritual kita yang paling tinggi. Kembali ke tanah muasal yang suci dimana singgasana Tuhan bertahta.

Dengan sepeda motor bututku, di sebuah lampu merah aku pernah hampir ditabrak konvoi motor besar yang dikawal polisi. Suara dan kecepatan para pengendara moge itu jelas seperti mengintimidasi pengguna jalan lain. Dan setelah aku rasa-rasa, kelakuan para pengendara moge itu sebenarnya tidak ada bedanya dengan para pelaku bom bunuh diri. Keduanya sama-sama telah terjangkiti penyakit "demam tujuan". Hanya bedanya yang satu mau cepat-cepat sampai tujuan dengan mengendarai moge, satunya lagi mau cepat-cepat masuk surga dengan meledakkan diri. Padahal keindahan sebenarnya bukan hanya ada di tempat tujuan. Di sepanjang hari di sepanjang perjalanan, Tuhan juga teramat banyak sekali menciptakan keindahan. Orang yang terjangkiti penyakit demam tujuan adalah orang yang tidak bisa menghargai, mensyukuri dan melihat banyaknya keindahan yang Tuhan ciptakan di sekelilingnya sendiri.

Apabila kau dengan sesungguh hati ingin menangkap haqiqat kematian/Bukalah hatimu selebar-lebarnya bagi ujud kehidupan/Sebab kehidupan dan kematian adalah satu/sebagaiman sungai dan lautan adalah satu (Khalil Gibran).

Jadi saya sendiri terus-terang tidak pernah kagum atau hormat dengan mereka-mereka yang suka menyombong sebagai orang yang berani mati, karena kematian adalah hal yang biasa. Semua orang kelak juga akan mengalami. Apalagi berani mati dengan bunuh diri. Apapun topengnya itu hanyalah tindakan orang yang putus-asa. Saya justru paling kagum dan hormat dengan mereka-mereka yang berani hidup. "Tragedi hidup yang terbesar bukanlah binasanya manusia, melainkan hilangnya rasa cinta dalam diri (WS Maugham). Jadi seperti halnya para pengendara moge dan pelaku bom bunuh diri itu, betapa egois dan hinanya kalian ini, mau mencapai tujuan kesenangan diri tapi dengan berdiri di atas air-mata dan penderitaan orang banyak.

Tuhan memang maha kuasa dan besar. Tetapi karena terlalu mudah dan seringnya konsep tentang Tuhan yang maha besar dan kuasa itu kita teriak-propagandakan, akhirnya konsep itu tinggal jadi ritual yang kehilangan esensinya. Bahkan di televisi aku pernah lihat, orang-orang yang berteriak-teriak menyebut nama besar Allah sambil membubarkan seminar yang diadakan oleh para waria. Seorang teman yang ada di sebelahkupun langsung tertawa lepas sambil berkomentar, "Baru kali ini aku lihat, ada tuhan (dengan t kecil) mengejar-ngejar bencong huahahahaaaaaaaaaa………………."
Konsep tentang Tuhan yang maha kuasa dan besar itu memang benar di satu sisi, tapi di sisi lain juga meracuni orang-orang yang merasa telah dekat Tuhan padahal dirinya hanyalah orang yang gila kuasa dan kebesaran diri belaka. Seperti halnya si Bahlul dan tetangga saya yang fanatic itu, menjadi orang yang sok tahu karena merasa dirinya pintar. Ataupun para pengendara moge dan pelaku bom bunuh diri yang membuat mereka merasa besar/benar, karena itu boleh bertindak sewenang-wenang.

Jadi menurut saya, konsep tentang Tuhan yang maha misterilah saat ini yang mestinya untuk lebih kita yakini dan hayati (kalau untuk diteriak-teriakkan rasanya juga akan janggal dan aneh). Karena dengan konsep ini, kita akan jadi lebih tahu diri dan suka intropeksi. Kita akan lebih terbuka dan toleran. Kita akan lebih suka menghargai siapapun juga, termasuk para bencong. Siapa tahu pemimpin spiritual besar masa depan adalah seorang bencong. Bisa saja, bukankah Tuhan bekerja dengan penuh misteri?

Begitupun halnya dengan kematian, itu adalah misteri dan biarlah tetap jadi misteri. Karena hanya dengan begitu, kita akan jadi lebih suka merendahkan hati dan selalu ingat Illahi. Tapi kalau anda memang merasa sudah pintar dan anda pikir bisa untuk ngadalin Tuhan, ya silahkan anda ikuti ajarannya si Bahlul di atas.

Si bahlul yang cerdik-kreatif adalah lambang otak kanan dan tetanggaku yang fanatik hafal isi satu kitab suci adalah lambang dari kuatnya otak kiri. Jadi kesimpulan saya; Malaikat itu rumahnya di otak kiri dan Iblis itu rumahnya di otak kanan. Sementara tuhan ada di Hati. Maka ketika aku beribadah, sembahyang, sujud, meditasi, berdo'a atau apa saja namanya. Aku istirahatkan kerja kedua sisi otakku itu. Walau itu tidak mudah, tapi begitu bisa kita lakukan, hukum timbal-balikpun akan kita saksikan. Tuahn tidak ada lagi dalam diri kita, tapi kitalah yang ada di dalam diriNya. Dan saat itu, dengan penuh kesadaran karena menyaksikan sendiri, kita akan mengaku, bahwa Tuhan itu memang maha Besar dan maha Kuasa. Dan dialah sang pembimbing kita, bukan lagi otak kanan (Iblis) atau otak kiri (malaikat) yang membimbing kita lagi.

Dengan laku spiritual yang demikian, kematianpun akhirnya akan bisa kita hadapi dengan senyuman, seperti melihat istri yang pagi-pagi sudah mandi keramas. Yah, spiritual memang seperti sex, untuk dilakukan dan dinikmati, bukan hanya untuk diwacanakan apalagi hanya diteriak-teriakkan saja.

dikutip dari milist 'dzikrullah'